Ditulis Oleh Erwin Edhi Prasetya
Sabtu, 30 Agustus 2008
Ular. Mendengar dan membayangkannya saja, sebagian orang akan langsung bergidik, gilo, apalagi ketemu dan melihatnya langsung. Faktanya, memang banyak orang takut dengan ular karena binatang melata ini memiliki racun mematikan.
Namun, di balik itu, hewan yang juga dilambangkan sebagai jelmaan iblis penjerumus manusia ke dalam dosa ini, sebenarnya menyimpan potensi luar bisa sebagai sumber obat alternatif. Sebagian orang sudah percaya dengan khasiat beberapa bagian tubuh ular dan menjadikannya sebagai jamu.
Snake Hunter Club Indonesia (SHCI) adalah organisasi pencinta ular yang konsisten mengembangkan pengobatan alternatif serum ular. Menurut Sekretaris Jenderal SHCI DIY Budi Suharjo, Jumat (29/8), SHCI mengembangkan pengobatan alternatif serum ular semata-mata untuk membantu orang yang membutuhkan kesembuhan, tanpa memungut biaya.
"Intinya, serum itu dibuat dengan cara meramu berbagai jenis bisa ular dengan empedu dan pankreas ular, yang dicampur dengan bahan-bahan khusus lainnya," tuturnya.
SHCI didirikan di Surakarta, 28 Februari 1964, oleh Kolonel Margana, setelah berhasil menemukan terapi dengan serum ular berbisa. Penemuan serum berupa cairan itu selanjutnya disempurnakan oleh muridnya, Nursiddin Haryanto, yang kini menjadi guru atau sesepuh SHCI. Sampai saat ini, hanya Nursiddin yang mampu meramu serum ular.
SHCI memegang prinsip "pengobatan demi kemanusiaan". Tanpa memungut biaya. Karena itu, SHCI secara reguler, di Yogyakarta setidaknya sebulan sekali menggelar pengobatan gratis. Ini dilakukan juga untuk mengubah pandangan negatif masyarakat terhadap ular yang selama ini hanya dianggap sebagai hewan mematikan sehingga harus dimatikan.
Dari pengalaman mengobati dengan serum ular, tutur Budi, tidak sedikit pasien yang kemudian mengaku sudah sembuh dari sakitnya. Ia bercerita, pernah mengobati seseorang dari Bantul karena sakit malaria. Setelah dua kali minum serum ular yang dicampur air putih, penderita meneleponnya dan mengatakan sudah lebih baik.
"Kami senang kalau mengetahui orang yang kami bantu sembuh. Bagi kami itu sudah cukup. Biasanya yang bisa diobati adalah penyakit- penyakit gangguan darah," kata pegawai Perum Perhutani ini.
Meskipun belum ada kajian secara ilmiah, tetapi Budi sangat yakin serum ular memang mampu menyembuhkan. Bahkan, ia pernah dimintai tolong mengobati seorang warga Papua yang terinfeksi HIV/AIDS.
Kekebalan
Selain mengembangkan serum ular untuk pengobatan, SHCI juga mengembangkan serum untuk menumbuhkan kekebalan dari gigitan ular berbisa. Ramuan khusus itu juga dikembangkan dari zat-zat dalam tubuh ular, termasuk bisa ular.
Penumbuhan kekebalan dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama, ramuan berdosis paling rendah untuk menumbuhkan kekebalan dari 23 jenis ular beracun. Serum ini sekaligus sebagai imun terhadap penyakit malaria dan demam berdarah. Tahap kedua dengan dosis lebih tinggi, yang diberikan dua minggu setelah ramuan pertama diminum.
Tahap ketiga diberikan dua minggu setelah ramuan tahap dua diminum. Ramuan ini dipercaya menumbuhkan kekebalan permanen terhadap gigitan ular berbisa, bahkan ular sangat mematikan seperti ular kobra, dumung, ular laut, dan weling. Namun, khusus untuk ramuan kekebalan gigitan ular, SHCI menetapkan biaya Rp 50.000 per orang. Dana itu digunakan untuk menggelar pengobatan gratis berikutnya.
"Akan tetapi, setelah minum ramuan ini jangan sombong. Ini tujuannya supaya kita selamat ketika secara tidak sengaja digigit ular," ujar pria yang mengaku sering berjumpa ular saat masuk-keluar hutan ketika menjalankan tugasnya.
Saat ini, SHCI DIY sudah meminta bantuan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia untuk melakukan kajian ilmiah atas serum ular. "Kami ingin tahu zat-zat apa saja yang ada. Ini supaya ada kajian ilmiahnya. Kenapa, kok, bisa membuat kebal atau kenapa bisa menyembuhkan. Kami sudah kirim sampel," ucap Budi.
Selama ini, dari pengobatan dengan serum ular dan ramuan khusus kekebalan, belum ada laporan keracunan dari masyarakat.
0 comments:
Posting Komentar