Minggu, 26 Oktober 2008

Hutan, Harmonisasi Kehidupan Sambak

Ditulis Oleh Triono Wahyu Sudibyo
Minggu, 26 Oktober 2008
KabarIndonesia - Desa di Lereng Gunung Sumbing itu sejatinya biasa saja. Yang membedakan dengan desa lain hanyalah kepedulian masyarakatnya terhadap hutan. Sambak, nama desa itu. Awalnya, desa yang masuk

Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang dan terletak dalam perbukitan Potorono itu, tak banyak dikenal. Tapi berkat jerih payah warga dalam melestarikan hutan, membangun jaringan air bersih, dan usaha peternakan, Sambak mulai diperhatikan.

Berbagai penghargaan diraih sejak tahun 2007. Mulai dari penghargaan sebagai desa berwawasan lingkungan, konservasi dan pengelolaan lingkungan, hingga juara pertama di bidang Cipta Karya.

Sukses desa Sambak tak hadir begitu saja, tapi perlu perjuangan keras dipadu dengan kearifan lokal dan pembelajaran berkelanjutan. Salah satunya berawal di tahun 2002 saat Perhutani Kedu Utara berniat ’memanen’ hasil hutan. Warga menolak, karena hutan seluas kurang lebih 80 hektare tersebut merupakan penyangga kehidupan. Warga khawatir penebangan hutan akan mengurangi debit air dan tanah menjadi labil.

Atas dukungan universitas di Yogyakarta dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), wrga bernegosiasi dengan Perhutani. Beruntung, kedua pihak bisa saling sepakat: hutan batal ditebang secara keseluruhan dan dibuatlah program pembentukan kawasan agrowanawisata yang mengawinkan bidang agrobisnis, wanatani (agroforestry), dan wisata alam.

Dengan program itu, hutan ’dipanen’ per bagian. Setelah ditebang, lahannya segera ditanami kembali. Tidak itu saja, di sela pohon-pohon besar penyangga itu juga ditanami tumbuhan produktif yang dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai makanan ternak.

Perhutani, universitas, LSM, dan warga pada akhirnya dapat saling membantu. Mata air yang jumlahnya belasan, dialirkan ke rumah-rumah penduduk. Warga hanya mengganti biaya perawatan pipa ke Koperasi Darmowalih Tirtalestari, lembaga yang dibentuk warga sendiri. Mata air yang alirannya tak sebesar jaman dulu kala dipastikan akan tetap ’menghidupi’ masyarakat, karena pohon-pohon penahan air tetap dipertahankan.

Selain itu, atas usulan warga, Perhutani merelakan sebagian lahan di tepi hutan di Dukuh Kebonlegi, Desa Sambak, yang digunakan sebagai kandang ternak massal. Dengan tarif sewa Rp 40.000 per bulan, warga mengandangkan bebas kambing, sapi, dan bahkan kelinci di daerah tersebut. Langkah itu ditempuh setelah pada tahun 2002-2003, penyakit malaria mewabah akibat rumah berdampingan dengan kandang ternak. Dengan kandang ternak massal, kini tak ada lagi warga yang terjangkit malaria. Ternak juga aman, karena dijaga secara bergantian.

Sukses melakukan banyak hal terhadap hutan negara itu tak membuat warga Sambak puas. Secara periodik. mereka menggelar forum bersama untuk membahas berbagai permasalahan lingkungan dengan menghadirkan aktivis LSM, perguruan tinggi, dan pemerintah. Melalui forum tersebut, warga mengetahui kekurangan dan hal-hal yang masih perlu dilakukan.

Banyak kalangan mengakui kegigihan warga Sambak dalam melestarikan hutan. Anggota DPRD Pontianak, Menteri Kehutanan Amerika, Dirjen Kementerian Lingkungan Hidup, pejabat lokal, dan orang-orang ’penting’ pernah ke desa yang terletak di Magelang bagian Barat itu pada tahun 2006-2007. Mereka ’meninjau’ sekaligus belajar mengelola hutan secara sederhana.

Sukses Desa Sambak, tentu, tak bisa ditiru begitu saja pada daerah kawasan hutan lain, karena tiap-tiap daerah punya karakteristik berbeda. Namun, untuk ’menciptakan’ Sambak-sambak lain, sejatinya yang paling utama hanya masalah kehendak baik. Negara, aktivis LSM, perguruan tinggi, dan segala hal yang bersifat material hanyalah faktor penunjang.

* * *

Pagi itu, akhir Juli 2008 lalu, saya melintasi jalan-jalan terjal di Desa Sambak. Seorang warga tampak memungut daun-daun yang jatuh di hutan dan mengumpulkannya di tepi jalan. Saya bertanya kepada warga lain. Katanya, daun-daun itu akan dijadikan pupuk alami. Hm...

Di tempat terpisah, beberapa orang tampak beraktifitas di kandang massal di tepi hutan. Suara lenguhan sapi dan embekan kambing terdengar. Ternak itu ditempatkan dalam kandang yang dibuat tersekat-sekat. Masing-masing sekat ditulisi dengan nama pemilik dan jumlah ternak. Sebuah pos ronda didirikan di tempat yang lebih tinggi di sekitar kandang massal itu.

Lalu, di tepi jalan raya terlihat pipa besar dipasang melintasi sungai. Ketika saya masuk ke kamar mandi di salah satu taman kanak-kanak, air mengalir deras dari pipa. Suaranya gemericik. Dingin dan segar. Hutan, air, dan harmonisasi kehidupan desa di Lereng Sumbing itu, begitu menghanyutkan. Saya membayangkan, daerah lain pun pasti bisa seperti itu!

0 comments:

Based on original Visionary template by Justin Tadlock
Visionary Reloaded theme by Blogger Templates

Kesatuan Pemangkuan Hutan Sukabumi Visionary WordPress Theme by Justin Tadlock Powered by Blogger, state-of-the-art semantic personal publishing platform