Ditulis Oleh Bisnis Indonesia
Selasa, 30 Juni 2009
SURABAYA: Gubernur Jawa Timur Soekarwo mendesak Perum Perhutani dan Perum Jasa Tirta untuk segera merehabilitasi kawasan hutan seluas 920 hektare di daerah aliran sungai (DAS) Brantas, mengingat peran penting sungai itu sebagai penyedia air bagi 43% penduduk provinsi itu.
"Perhutani dan Jasa Tirta mesti segera merehabilitasi dan reboisasi 950 hektare area hutan vital di DAS Brantas, efektif 2010," tegas Soekarwo di Puncak Peringatan Hari Lingkungan Hidup 2009, di Arboretum Sumber Brantas, Desa Sumber Brantas Kec. Bumiaji, Batu, seperti dikutip siaran pers Humas Pemprov Jatim, akhir pekan lalu.
Reboisasi penanaman hutan kembali di kawasan DAS Brantas menjadi komitmen Perum Perhutani, karena BUMN itu yang bertanggung jawab atas areal 920 hektare hutan, yang kini berstatus areal kritis itu.
HIdupkan mata air Perum Jasa Tirta telah memberikan kesanggupan untuk menghidupkan kembali 111 mata air yang ada, dengan tindakan konservasi.
Kepala Badan Lingkungan Hidup Jatim, Dewi Yuniar Putriatni mengatakan 200 titik dari 421 titik mata air terutama di 6 Gunung (Arjuno, Welirang, Anjasmoro, Kembar, Kelud dan Penanggungan), yang menjadi Hulu Mata Air Brantas, telah hilang. Sedangkan di Batu yang semula 111 tinggal 57 mata air. "Ini disebabkan oleh pembalakan liar dan pengelolaan lahan yang tidak mengindahkan aspek konservasi tanah," tegasnya.
Di kawasan DAS Brantas Bagian Hulu di Batu saat ini, lanjut Dewi, terdapat lahan kritis dalam kawasan hutan sekitar 925 hektare dan di luar kawasan hutan 1.900 hektare.
Sedangkan di Kab. Malang lahan kritis dalam kawasan hutan seluas 10.473 hektare dan di luar kawasan hutan 46.315 hektare. "Berdasarkan hasil studi lapangan, ditemukan erosi di daerah hulu brantas sebesar 2.000 ton lebih per hektare per tahun, berlipat 300% dibandingkan kondisi 1980-an," paparnya.
Dewi menambahkan Waduk Sengguruh dan Sutami mengalami sedimentasi 5,4 juta m3 per tahun selama 1988-2003.
Berarti, kata dia, setelah 15 tahun, yaitu pada 2003, waduk Sutami kehilangan tampungan efektifnya 43,6% (253 juta m3 menjadi 142 juta m3) dengan total sedimen yang masuk sebesar 167,4 juta m3.
"Karena laju sejavascript:void(0)dimentasi terus meningkat, waduk Sengguruh yang rencananya menampung 19 juta m3 dalam waktu 20 tahun, ternyata baru 6 tahun sudah penuh." (K21)
0 comments:
Posting Komentar