Kamis, 11 Februari 2010

Perhutani: CAFTA Peluang Bagi Ekspor Gondorukem

Ditulis Oleh Berita Daerah.com
Kamis, 11 Februari 2010

(Berita Daerah- Nasional) - Perum Perhutani akan memanfaatkan peluang pasar ekspor produk gondorukem dan derivatifnya yang terbuka seiring implementasi perjanjian perdagangan bebas China dan Asean (China-Asean Free Trade Agreement/CAFTA).

Meski mengakui gondorukem China sudah masuk ke Indonesia dalam jumlah yang terbatas, Direktur Utama Perum Perhutani, Upik Rosalina Wasrin, di Jakarta, Selasa, mengatakan, "Kita melihat masih ada peluang pasar ekspor yang terbuka untuk produk ini."

Karena itu, katanya di sela-sela Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR-RI, masih terbuka peluang untuk mengekspor produk gondorukem dan derivatifnya ke berbagai negara ASEAN, bahkan pasar China.

Dikatakannya, kapasitas produksi gondorukem China mencapai 600.000 ton/tahun. Namun negara itu masih mengimpor 10.000 ton hingga 20.000 ton gondorukem asal Indonesia. "Mereka masih mengimpor dari Indonsia disebabkan kualitas gondorukemnya lebih baik ketimbang yang dihasilkan di negara tersebut," katanya.

Produksi gondorukem Indonesia, katanya, memiliki keunggulan dibandingkan produk serupa dari China karena jenis tanaman yang berbeda. Dengan dukungan teknologi pengolahan, kata Upik, produk derivatif gondorukem akan semakin meningkat kualitasnya, sehingga ekspor komoditas ini pada 2010 ditargetkan mampu meraup pendapatan sebesar Rp2,7 triliun.

"Pabrik derivatif gondorukem diperkirakan akan selesai dibangun pada pertengahan 2011. Agak terlambat memang karena pembangunannya membutuhkan waktu sedikitnya 1,5 tahun dengan nilai investasi mencapai Rp160 miliar di Jawa Barat," ujarnya.

Industri pengolahan itu dibangun, katanya, untuk memperoleh nilai tambah gondorukem yang setiap tahunnya diproduksi sebanyak 55.000 ton per tahun.

"Hasil penjualan 55.000 ton gondorukem itu mencapai 800.000 dolar AS. Jika diolah menjadi produk derivatif, produk hasil olahan itu akan meningkat sampai tiga kali lipat, kira-kira Rp2,7 triliun," katanya.

Beberapa produk derivatif yang akan dikembangkan, di antaranya bahan baku cat, bahan baku tinta, dan bahan baku pengharum makanan. "Nantinya, pabrik tersebut akan menjadi industri pengolahan pertama di Indonesia yang mampu mengolah gondorukem dan terpentin hingga menjadi bahan baku makanan dan minuman.

Menurut dia, selama ini Indonesia belum mengolah produk gondorukem secara maksimal. "Sebagian besar penjualan gondorukem ditujukan ke Amerika Serikat dan Eropa dengan total ekspor mencapai 30.000 ton hingga 40.000 ton per tahun."

Jika industri pengolahan gondorukem sudah berproduksi, produk derivatif nantinya akan dipasarkan ke Amerika Serikat, sesuai dengan perjanjian kerjasama yang sudah disepakati sebelumnya dengan perusahaan asal negara itu, kata Upik.

(if/IF/ant)

0 comments:

Based on original Visionary template by Justin Tadlock
Visionary Reloaded theme by Blogger Templates

Kesatuan Pemangkuan Hutan Sukabumi Visionary WordPress Theme by Justin Tadlock Powered by Blogger, state-of-the-art semantic personal publishing platform