Kamis, 19 Juni 2008

Jepang dan Eropa Siap Tampung Produk Singkong Indonesia

Ditulis Oleh Harian Global
Kamis, 19 Juni 2008

Pasar Jepang dan Eropa kembali terbuka bagi Indonesia khususnya untuk produk pangan alternatif dari singkong berupa tepung kasava atau Modified Cassava Flour (mocal) yang mampu mensubstitusi tepung terigu.

"Permintaan mocal dari Jepang dan Eropa sudah ada sayangnya kapasitas produksi mocal kita masih sangat terbatas," kata Staf Ahli Menteri Negara Koperasi dan UKM Bidang Pengembangan Iklim Usaha dan Kemitraan Ir Muhammad Taufiq MSc di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan, saat ini produktivitas mocal yang rata-rata bisnisnya dikelola oleh KUKM adalah 500.000 ton per bulan.

Mocal sendiri dinilai potensial mendatangkan devisa negara karena selain bernilai ekonomis tinggi juga mampu mensubstitusi tepung terigu yang saat ini masih seluruhnya impor.

Mocal dapat mensubstitusi terigu sebanyak 20-50 persen dalam pembuatan mie dan bahkan 100 persen sebagai bahan baku biskuit atau kue.

"Apalagi mocal teruji memiliki keunggulan dibandingkan terigu yaitu tidak mengandung glutein sehingga baik dikonsumsi penderita autis, seratnya lebih tinggi, dan kadar gulanya jauh lebih rendah dibandingkan terigu," katanya.

Pihaknya menargetkan produksi mocal Tanah Air hingga 2012 akan mencapai 20 persen dari total impor terigu nasional yang sebesar 5 juta ton.

Untuk kepentingan itu, Kementerian Negara Koperasi dan UKM menggandeng Perum Perhutani untuk mengembangkan produk pangan alternatif mocal dengan memanfaatkan lahan tidur milik BUMN tersebut.

Kerjasama itu juga melibatkan Bulog, perguruan tinggi (Universitas Negeri Jember sebagai penemu enzim mocal), dan Menristek dari sisi teknologi.

Pengembangan mocal menurut Taufiq akan sangat menguntungkan karena harganya yang jauh lebih murah dari terigu yaitu ongkos produksi hanya Rp3.500/kg sementara terigu telah mencapai Rp6.000-Rp7.000/kg.

"Dengan adanya mocal, harga singkong di tingkat petani juga terkatrol dari semula hanya Rp300 saat ini sudah mendekati Rp800/kg," katanya.

Program itu telah dijalankan sejak 2004 dan lahan Perhutani yang telah disiapkan seluas 1,2 juta ha yang tersebar di seluruh wilayah kerja Perhutani di Pulau Jawa.

Pada 2004, program penanaman singkong dan pengolahannya menjadi mocal telah dijalankan di Lampung. Sementara 2005 menyusul Trenggalek, Jawa Timur, pada 2006 dikembangkan di Pati Jawa Tengah, dan pada 2007 dilaksanakan serentak di Cianjur, Magelang, dan Situbondo.

"Untuk 2008 ini kami akan menggerakkan 50 titik di Pulau Jawa dan khusus untuk tahun ini Perhutani sudah menyiapkan lahan 50.000 ha," kata Taufiq.

Pihaknya bertekad mengembangkan industri tepung singkong itu dalam skala masif agar dapat menciptakan lapangan kerja baru dan secara efektif menekan angka kemiskinan.

ANT | Global | Jakarta

0 comments:

Based on original Visionary template by Justin Tadlock
Visionary Reloaded theme by Blogger Templates

Kesatuan Pemangkuan Hutan Sukabumi Visionary WordPress Theme by Justin Tadlock Powered by Blogger, state-of-the-art semantic personal publishing platform